HAI, Ladiesmom
via
GIPHY
Semingguan ini bawaan hati saya lg nelangsa banget. Salah satu penyebabnya adalah karena di penghujung 2018 ini ngerasa kalau diri, orang dekat di sekitar saya, dan bangsa Indonesia sedang diuji sekali.
Pada hari Sabtu, 22 Desember 2019 menjadi hari yang tidak disangka akan terjadi bencana alam besar yang akan menelan banyak korban. Tempat yang tidak terlalu jauh dari Jakarta, salah satu surga pantai untuk liburan keluarga, yaitu Banten dan Lampung menjadi lokasi terjadinya bencana erupsi Gn. Krakatau yang mengakibatkan Tsunami. Kejadiannya kalau tidak salah sekitar pk 21.00 WIB, waktu dimana rata-rata orang sudah bersiap untuk beristirahat. Namun, alam berkata lain.
Tapi di sini saya mau mencoba berbagi beberapa tips buat Ladiesmom, mengenai tata krama dalam menjenguk korban bencana alam.
via
GIPHY
Beberapa hari lalu #productivemamasteam mencoba membuat materi konten mengenai hal ini, karena kami merasa hal terkait tata krama dalam menjenguk belum banyak yang mengerti.
Terlebih karena #productivemamasteam sendiri mengalami bahwa salah satu korban dari bencana alam Tsunami Banten& Lampung adalah founder dari Productive Mamas yaitu mba Danesya Juzar, beserta keluarga besarnya yang pada saat kejadian berada di sana untuk liburan.
Sehingga #productivemamasteam merasakan beberapa
kondisi yang kami kira akan menjadi penting bagi masyarakat mengetahui,
dan akhirnya tertuang dalam postingan konten berisi tips di bawah ini
Coba
kita bedah satu-satu ya gaesss
1. Hindari bertanya tentang
kejadian sama sekali, sampaikan empati dan doakan korban.
Setelah
kejadian teman-teman di #productivemamasteam memang memberikan update
via IG stories Productive Mamas tentang mba Nesya dan
keluarga yang menjadi korban, dan saat itu kondisi dan informasinya banyak yg
masih belum jelas.
Dari
update-an tersebut #productivemamasteam banyak mendapatkan respon
berupa DM dan chat personal menanyakan keadaan mba Nesya dan keluarga,
kebanyakan berisi kiriman doa dan ungkapan duka cita.
Sampai
sini tentu sebagai pihak yang sedang berduka kami jadi mendapatkan kekuatan.
Namun ada juga beberapa yang ternyata langsung inisiatif untuk berkunjung, dan
akhirnya mungkin menimbulkan kondisi kurang nyaman, terutama bagi pihak korban
dan keluarga.
Sampai
akhirnya pihak rumah sakit memutuskan menuliskan notes di depan kamar mba Nesya
Memang, langsung datang berkunjung setelah mengetahui suatu kejadian pada beberapa orang adalah hal yang biasa, terutama di orang Indonesia yang budaya kekeluargaannya cukup kental. Tapi pada kenyataannya, kegiatan seperti ini seringkali malah membuat situasi korban dan keluarga menjadi kurang nyaman.
Perlu diketahui dulu bahwa sebelum mengunjungi korban musibah bencana,kita harus menempatkan empati tertinggi terhadap kondisi korban. Apalagi kejadian yang membuat trauma mendalam bagi korbannya.
Ada
baiknya jika tidak terlalu dekat hubungannya atau mungkin memang diri kita nya
sendiri sedang sakit, mohon jangan dipaksakan untuk datang.
via
GIPHY
2. Bawakan yang menjadi
kebutuhannya setelah bertanya ke keluarga dekat.
Kondisi korban dan keluarga tentu sudah cukup pelik karena musibah yang menimpa mereka, hingga kadang banyak hal yang tidak bisa terpegang. Sehingga pertolongan dari orang-orang terdekat tentang kebutuhan mereka bisa menjadi bantuan yang diidamkan. Terutama untuk kebutuhan pokok seperti makanan, baju ganti, urus dokumen, komunikasi,dll.
Misal, untuk korban yang memang punya anak kecil bisa dibantu untuk dijaga sementara korban juga dalam masa pemulihan.
Atau mungkin ada yang bisa membantu untuk ketersediaan makanan yang mudah untuk disajikan bagi korban dan keluarga.
Setelah sharingan tentang konten ini di post di IG pun beberapa #PMFriedns yang juga turut memberikan masukkan, yg ternyata mereka pun setuju. Bahwa bagi korban perhatian dari keluarga maupun teman dekat tentang kebutuhan mereka ini akan sangat diperlukan.
Oooh indahnya kebersamaan
via
GIPHY
3. Berkunjunglah jika memang
situasi memungkinkan dan anda sangat dekat dengan korban. Karena korban butuh
istirahat dan recovery setelah kejadian yang menimpanya.
Berkaitan juga dengan poin pertama di atas, bahwa berkunjung kepada korban setelah kejadian bisa menjadi hal yang tidak nyaman. Terutama karena kondisi mental dan fisik korban yang pasti tidak seperti biasa. Maka pemintaan untuk tidak menerima kunjungan sementara waktu dari korban yang masih dalam masa recovery janganlah dianggap suatu penolakan.
Jujur, dari #productivemamasteam pun yang baru mengunjungi mba Nesya hanya beberapa orang. Bukan karena ga sayang, apalagi ga peduli, tapi kita juga memikirkan bahwa kondisi sekarang yang paling penting adalah mba Nesya sekeluarga bisa sebaik mungkin memulihkan diri. Proses pemulihan ini pun tidak ada paten waktunya, yang penting support dari kita untuk selalu ada jikalau dibutuhkan, dan tentunya doa.
4. Hindari
membahas mengenai keluarga korban ataupun kerabat yang belum ditemukan
Sepengalaman saya sebagai salah satu orang yang keluarganya banyak menjadi korban pada Tsunami Aceh 2006 silam, pertanyaan-pertanyaan perihal keluarga yang hilang atau meninggal masih bisa membekaskan luka yang mendalam. Padahal itu kejadian sudah berlalu cukup lama, pun saya tidak mengalaminya sendiri.
Tp krn beberapa saya kenal dekat, bahkan beberapa minggu sebelumnya masih bertemu tentu kehilangan itu sampai kapanpun akan menjadi kabar duka. Oleh karena itu sedikit banyak saya jadi mengerti mengapa hal ini menjadi penting.
Karena itu dalam mengunjungi korban bencana, sebagai pengunjung sebaiknya sangat menghindari mengajukan pertanyaan ini. Karena pikiran dan hati mereka pasti jauuuuh lebih perih dari kita.
Pikiran
mereka mungkin masih berada diambang percaya tidak percaya. Kita juga pasti
tidak akan bisa membayangkan bagaimana perasaan, pikiran, kondisi fisik korban
dan keluarga pada saat itu.
Apalagi
kalau korban kebetulan juga memiliki anggota keluarga lain yang bahkan belum
ditemukan.
Tentu
saja tanpa ditanyakan mereka juga sedih, sangat lelah, dan punya banyak
pikiran.
via
GIPHY
duh maap malah pake gif neng beyonce buat ngelap aer mata doang
:')
Demi
menjaga kondisi psikologis korban, mungkin pengunjung cukup menjadi pendengar
yang baik, dan dapat tetap membantu korban untuk menghandle sementara
kegiatan-kegiatan yang belum bisa mereka kerjakan sendiri.
5. Hindari
kontak fisik, (misal: memeluk) sebelum mengetahui kondisi korban dengan detail,
bisa jadi ada luka atau retak yang tidak kita ketahui.
Kalaupun pada akhirnya Ladiesmom berkesempatan
hadir berkunjung ke korban bencana alam, salah satu lain yang harus dihindari
adalah kontak fisik tanpa mengetahui detail kondisi korban sebelumnya.
Korban dari bencana alam biasanya memiliki luka ataupun
kondisi badan yang kurang nyaman, namun kadang belum mereka rasakan karena
tertutup trauma yang mendalam. Sehingga, kontak fisik yang kita lakukan mungkin
bisa memperparah kondisi korban.
Sebaiknya tanyakkan dulu kepada dokter ataupun suster yang
menjaga, kondisi fisik korban bagaimana, sehingga sebagai pengunjung kita bisa
bertindak secara lebih bijak.
via
GIPHY
Ladiesmom, akhir tahun 2018 ini ternyata masih
memberikan banyak pelajaran berharga bagi kita semua. Ternyata kekuatan dan
kekuasaan kita maha kecil dibandingkan yang Tuhan miliki.
Keluarga adalah harta yang paling berharga.
Kesehatan dan kenyamanan yang kita rasakan sekarang adalah
hal termewah.
Dan masih banyak sekali syukur yang tak terhenti harus kita
ucap.
Walaupun bencana alam ini menimbulkan pilu yang bertubi, tapi
pelajaran yang dirasakan pun tak kalah melimpah.
Kelekatan persaudaraan antar sesama jauh lebih terasa,
kepedulian kita pun diberikan ruang untuk semakin luas dibagikan.
Untuk para korban dan keluarga korban Tsunami Banten
& Lampung,
saya pribadi mengucapkan duka cita sedalam-dalamnya.
Saya tentu tidak akan bisa merasakan apa yang kalian rasa,
tapi saya yakin kalian adalah orang-orang pilihan.
Saya yakin kalian akan bisa melewati ini dengan cara terbaik.
Send lots of virtual hug from
here, keep be strong and happy.
All of you are my inspiration
via
GIPHY
Cao,
Sheila L
IG : @sheilalif
Tidak ada komentar :
Posting Komentar